Uneg-uneg Mempersiapkan Pernikahan di Indonesia

Untuk blog post aku kali ini, aku tidak akan mereview vendor dulu, hehehe. Aku mau sedikit curhat saja tentang beberapa aspek pernikahan di negara kita. Aku juga akan membahas beberapa hal yang menurutku sudah waktunya diubah.

Banyaknya tamu = mahalnya pesta
Sepertinya memang sudah tradisinya ya, kalau pernikahan di Indonesia itu memang harus mengundang banyak tamu. Katanya karena semakin banyak tamu, semakin banyak doa. Teman-temanku yang bukan orang Indonesia suka kaget sekali pada saat tahu berapa jumlah tamu aku… Dan, tentunya, semakin banyak tamu artinya semakin banyak biaya (dan juga, sadly, semakin banyak yang potensi nyinyirin pestanya). Sejujurnya, kalau bisa sih aku inginnya punya pernikahan kecil hanya dengan teman dan keluarga dekat saja. Aku dan fiance juga tidak masalah bila hanya menikah di KUA, misalnya. Buat kami, yang paling penting adalah kami sama-sama yakin dengan satu sama lain. Tapi juga at the end of the day, kami mensyukuri apa yang kami punya dan tentu berharap pernikahan kami menyenangkan untuk tamu kami.

It’s the marriage that matters, not the wedding.

Satu pihak yang bayar
Ini salah satu aspek pernikahan yang menurutku sudah agak ketinggalan zaman, yaitu satu pihak membayar. Apalagi, dengan semakin naiknya harga pernikahan di Indonesia. Umumnya, untuk orang Jawa, biasanya pihak perempuan yang bayar. Untuk orang Indonesia keturunan Tionghoa, biasanya pihak laki-laki yang bayar semua. Untuk acara pernikahanku, semua biaya dibagi 50:50 karena kami percaya bahwa tidak adil bila hanya satu pihak yang bayar. Pernikahan adalah acara bersama dan bukan hanya hajat satu pihak saja. Oke, kalau pihak yang membayar tenggang rasa dan meng-involve pihak satunya lagi untuk pemilihan vendor, adat, dan lain lain. Kalau tidak, yang tidak bayar bisa bilang apa?

Fun fact: Oh iya, pihak perempuan yang membayar itu bukan hanya di Indonesia. Misalnya di Inggris, tradisinya juga orang tua perempuan yang membayar. Tapi, tradisi ini sudah mulai ditinggalkan dengan konsep 50:50 dengan semakin naiknya harga weddings.

Tradisi & pakem
Tradisi dan pakem tentunya adalah salah satu aspek penting dari pernikahan di Indonesia. Don’t get me wrong, brides. Aku suka sekali dengan beragam adat di Indonesia. Dari dulu aku sudah tau aku mau pakai adat Sumatera di hari pernikahan aku dan tidak pernah tertarik dengan pernikahan versi internasional. Namun, ada beberapa aspek yang menurutku lebih ke bau-bau superstition (untuk yang beragama Islam pasti paham apa yang aku maksud dengan istilah syirik/bid’ah). Nah, beberapa practices ini malah suka bikin paranoid yang tidak perlu. Misalnya, bila kendi tidak pecah setelah siraman, jadi khawatir pamornya pas resepsi tidak akan muncul. Atau bila paes tidak pakem, takut jadi bahan omongan orang. Jadi, perlu waspada ya brides, jangan sampai hal-hal seperti ini malah jadi menambah daftar kecemasan kalian sebelum hari H.

Vendor reviews yang tidak jujur
Oke, first off, sebenarnya aku kurang tahu apakah ini permasalahan khusus Indonesia apa bukan, hehe. Anyways, pasti para brides to be disini sudah tahu seberapa susahnya kan mencari-cari vendor untuk pernikahan. Nah, yang membuat semakin susah adalah jarangnya para penganten memberikan review yang objektif untuk vendor mereka di website seperti Bridestory atau Weddingku, misalnya. Semuaaaaa review bagus. Tapi, seberapa banyak sih dari review bagus ini yang jujur?

Aku ada cerita nih brides. Pada saat aku lagi cari-cari vendor WO, aku melihat satu WO yang reviewnya di websites bagus semua. Aku langsung jadi tertarik sekali dengan mereka. Kemudian aku lihat salah satu kliennya yang me-review bagus ternyata temanku. Aku kemudian menanyakan ke dia bagaimana pengalaman dia bekerja dengan WO tersebut. Dia langsung curhat betapa sebalnya dia sama WO-nya karena WO ini kerjanya berantakan (urusan KUA saja 2 minggu sebelum hari H belum beres) dan nge-judge pernikahan dia hanya kecil-kecilan saja dan bukan sekaliber yang biasa mereka handle. Ya ampun… Untung banget aku nanya ke temenku dulu kan?

Aku mengerti sih, pasti para penganten tidak enak untuk memberikan review negatif apalagi kalau sudah kenal kan. Makanya salah satu alasan aku menulis blog ini adalah supaya aku bisa (relatif lebih) objektif menceritakan pengalaman aku dengan para vendorku. Trade-off-nya ya aku ingin sebisa mungkin tetap anonim, walaupun beberapa temanku tahu ini blog-ku dan kalau kenal dengan aku pasti kemungkinan besar bisa menebak aku. Hehehe…. Oh iya, sebetulnya banyak sih review yang jujur di forum seperti Female Daily, misalnya. Tapi ya, menurutku sih website-nya kurang user-friendly (search function-nya suka tetot) dan capek banget harus scroll beberapa puluh halaman untuk mencari satu vendor yang aku tertarik. Kebanyakan vendor yang dibahas disana juga biasanya lebih pengalaman di pernikahan internasional dan bukan adat, seperti yang aku mau.

‘Ditunggu undangannya ya…’
Oke, last but not least, menurut aku salah satu hal yang paling menyebalkan adalah kalau ada teman (biasanya tidak dekat) menanyakan ke aku ‘ditunggu undangannya yaa..’. Hello, kalau saya mau undang sampean, sampean pasti akan menerima itu undangan! Atau, setelah acara, biasanya ada saja nih yang suka bertanya ‘kok gw ga diundang..?’. Oh please, semua orang punya budget dan space venue yang limited. Kalau pakai logika dasar saja, tidak mungkin semua teman atau kolega diundang. Kecuali benar-benar teman deket yang merasa mungkin si capengs lupa mengundang (kemungkinan ini pun kecil), mending pertanyaan ini disimpan saja untuk diri sendiri. Apa sih gunanya menanyakan ini kalau bukan hanya untuk membuat si penganten baru merasa bersalah? Rasanya, bila ada yang seperti ini, pengen langsung aku semprot. Pun mungkin betul-betul kecewa, doakan saja si penganten baru daripada menanyakan hal-hal seperti ini.

Oke, segitu dulu ya brides uneg-uneg kali ini. Semoga pernikahan yang kita rencanakan lancar sampai hari H dan seterusnya.

-AS&ASK

6 thoughts on “Uneg-uneg Mempersiapkan Pernikahan di Indonesia

  1. Nabila says:

    The “last but not least” point is just so true! Kadang memang kita yg bikin acara udh bener2 mepetin sesuai budget and they sometimes (mungkin) ga kepikiran kesana ya hehe. Sebel sih tp ya sabar saba aja, yang penting masih banyak yg doain kita hehe :p

    Like

  2. LNS says:

    Hi AS! Thanks for sharing your wedding planning 101! I’ve been using your blog as my wedding planning guide for awhile, since I pretty much use Google to find reviews & pricelist of vendors and your taste is the only thing that matches mine in this whole ‘Google-verse’. To my surprise, when I read your whole blog, I finally realised who you are! ;P Good luck on your wedding! If you have the time, write reviews of decoration thingy pretty please?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s