Berapa Maharnya?: Tips Menyiasati Isu-Isu Sensitif Dalam Menyiapkan Pernikahan

Dear readers,

Berhubung aku sudah lama tidak blog soal vendors (karena jujur, memang belum ada update lagi tentang vendors, kecuali undangan dan kotak seserahan, sii..), kali ini aku mau membahas soal isu-isu sensitif dalam mempersiapkan pernikahan – terutama yang berhubungan dengan keluarga calon. Berikut beberapa hal yang menurutku lumayan sensitif dan cara kami dan keluarga kami meng-handle-nya. Semoga bermanfaat untuk para calon brides yang juga lagi menghadapi “masalah” yang sama.

  • Pembagian biaya pernikahan

Oke, alhamdulillah! Akhirnya kamu dan calon suami sepakat menikah. What’s next? Tentunya memikirkan akad dan resepsi. Salah satu hal paling penting, tentunya, adalah biaya. Ada 2 pertanyaan utama:

1. Berapa banyak biaya yang ingin dikeluarkan oleh pihakmu untuk mengadakan resepsi?

Untuk menyiasati ini, sebelum ke orang tua, kami sudah survey duluan kira-kira berapa sih yang akan dihabiskan untuk pesta yang kira-kira diinginkan? Kamu bisa mulai dari menanyakan pricelist dari vendors, dari teman-teman yang pernikahannya seperti pernikahan yang kalian inginkan, atau dari blog kami :p hehehehe. Dulu, kami sudah bisa mengira-ngira total kasar biaya dari 3 vendor terbesar, yaitu: dekor, makan, dan gedung. Kami estimasi bahwa 3 biaya ini adalah 70% dari total biaya yang akan dikeluarkan. Sisanya sebetulnya lebih ke perintilan saja. Nah, ada gunanya juga, brides, untuk mulai membuat Excel spreadsheet biaya pernikahan dari sekarang (walaupun mungkin WO juga buatkan). Berguna sekali untuk keep track of the budget. Kebetulan camer aku akuntan, jadinya cocok deh pakai spreadsheet. Hehehe.

Nah, yang penting juga harus dipikirkan (dan sangat menentukan biaya) adalah jumlah tamu. Kira-kira berapa jumlah tamu yang akan diundang oleh orang tua kalian? Kebetulan kami berdua adalah anak pertama dan berasal dari keluarga yang cukup besar, sehingga sudah bisa kira-kira tamu akan banyak.

2. Pernikahan akan dibagi bagaimana? Apakah satu pihak atau 50:50 atau bagaimana?

Untuk soal ini, kami memang sudah sepakat dari pacaran akan mau membagi biaya 50:50. Kami berdua akhirnya bicara dengan orang tua masing-masing, sebelum akhirnya orang tua yang bicara langsung. Awalnya repot juga, karena alur komunikasinya panjang: dari orang tua aku -> aku -> calon aku -> orang tua calon aku, dan banyak potensi lost in translation. Untuk menyiasati ini, kami akhirnya membuat Whatsapp group khusus kami dan para ibu. Alhamdulillah sejauh ini ibu-ibu kami kompak sekali. Dengan adanya Whatsapp group kami juga bisa lebih transparan. Setiap 3 bulan, kami revisi kembali budget kami di Excel spreadsheet dan keep track siapa yang sudah bayar berapa.

Kalau brides ingin keluarga calon berkontribusi tapi bingung bilangnya gimana, ada cara alternatif yang lebih ‘halus’ (ide ini aku dapatkan dari ibunya temanku). Ibu temanku bilang ke temanku untuk bilang ke calonnya: Kalau hanya keluarga kita yang mengadakan, kita bisa kontribusi segini (sebut angka). Kalau keluarga kamu mau berkontribusi, mungkin kita bisa mengadakan pesta dengan lebih banyak tamu. Akhirnya, keluarga calonnya setuju deh untuk 50:50.

  • Penentuan adat

Buat kami pribadi sebetulnya penentuan adat tidak pernah jadi masalah. Kebetulan orang tuaku dan ibu camer dari daerah yang sama. Aku juga dari kecil sudah ingin memakai adat ini. Nah, papanya calonku itu dari Jawa dan tentunya kami juga ingin ada adat Jawa-nya. Setelah diskusi, kami akhirnya sepakat untuk mengadakan akad dengan adat Jawa dan resepsi dengan Sumatera. Jadi, buat kami memang penentuan adat sangat mudah.

Tapi, aku sering dengar memang buat beberapa pasangan dimana adat menjadi isu yang cukup pelik. Misalnya, ada pihak yang mau adat Jawa tapi pengantennya tidak mau (inginnya lebih nasional atau tidak ada adat). Biasanya, teman-temanku yang seperti ini menyelesaikannya dengan kompromi. Misalnya, akad boleh dengan paes dan panggih tapi tidak ada siraman dan midodareni. Untuk mengakomodir banyak adat, banyak keluarga pasangan juga tidak seragam untuk prosesi sebelum pernikahannya. Misalnya, untuk CPW ada malam bainai tapi untuk CPP ada siraman dan midodareni. Jadwal disepakati bersama sehingga keluarga bisa saling berkunjung jika diperlukan (misalnya untuk seserahan).

  • Seserahan

Apa saja sih isi seserahan? Bisa dibaca disini, brides.

Seserahan juga bisa jadi sebuah issue yang tricky, brides. Pastinya, semua pihak inginnya yang diberi seserahan mendapatkan sesuatu yang dia suka dan akan dipakai kan. Dari pengamatan aku ada beberapa cara yang bisa ditempuh oleh capeng dalam urusan seserahan. Pertama, ada calon penganten yang beli sendiri jadi akhirnya seserahannya hanya pura-pura. Ini tentunya solusi paling mudah, tetapi ya tidak betul-betul seserahan. Kedua, ada juga yang beli bareng dengan calon (dan orang tua), jadi sama-sama enak. Tentunya sebelumnya sudah diskusi price-range dan toko yang dituju kira-kira seperti apa. Ketiga, ada yang ditentukan budgetnya oleh pihak sebelah, jadi calon bebas beli sendiri dan nanti akan direimburse (ini cara pilihan kami).

img_2017-1024x682

Photo oleh salah satu vendor kami, House of Seserahan, Cempaka Putih: http://thehouseofseserahan.com/

Nah, untuk menghindari masalah, menurut kami penting untuk transparan dalam penentuan ekspektasi. Pertama, kedua pihak tentukan dulu mau memberikan barang apa saja. Misalnya, tas kerja, dress, tas pesta, makeup, peralatan mandi, dll. Nah, setelah itu, baru mendiskusikan range harga dan merek (buat perempuan, biasanya yang paling mahal adalah tas dan sepatu). Kalau harga dan merek sudah sepakat, harusnya semua jadi mudah. Capeng bisa juga merinci semua item yang kira-kira mau dibeli dan harganya, kemudian dipropose ke calon dan orang tua. Kalau tidak enak “meminta” langsung ke calon mertua, bisa lewat calon yang kemudian akan komunikasikan dengan orang tuanya. Buat kami disini, kami menganut azas buka-bukaan. Jujur, ini membantu sekali untuk menghindari rasa tersinggung atau miskomunikasi.

  • Penentuan mahar

Untuk penentuan mahar, ayahku meminta langsung dengan calon mertua aku. Cara ini bisa sangat simple tapi juga rawan miskomunikasi, brides. Oleh karena itu, ada baiknya juga kalau orang tua ketemu langsung instead of menentukan hanya lewat telfon/WhatsApp, misalnya.

Nah, yang juga perlu diperhatikan nih brides, di keluarga aku yang kebanyakan orang Sumatra, tradisinya memang perempuan yang mematok banyaknya mahar. Di keluarga calon suamiku, yang banyak orang Jawa, biasanya laki-laki yang menentukan mahar seikhlasnya. Jadi, sebelum penentuan mahar, mungkin ada baiknya untuk meminta calon pasangan diskusi dulu ke keluarganya, apa sih tradisinya di keluarga kamu.

mahar-uang9

Photo by Souvenir Pernikahan Unik Murah

Note penting: Yang bisa membuat persoalan-persoalan di atas menjadi 100x lebih sensitif adalah kalau keluarga pasangan tidak berasal dari status ekonomi yang sama. Dari pengamatan kami,  walaupun cara menghadapinya case by case basis, mereka yang sukses semuanya berkompromi dan tenggang rasa. Intinya, tidak terlalu memaksakan kehendak dan jangan pernah meremehkan/merendahkan keluarga calon (walaupun hanya secara implisit). Misalnya, tidak pernah berkonsultasi sama sekali dengan keluarga pasangan soal pemilihan vendor atau membicarakan aib keluarga calon ke WO. Trust us, doing this will jeopardize your relationship for much longer than you can ever anticipate!

Sekian dulu ya brides. Kalau kepikiran isu sensitif lainnya akan kami update. Oh iya, buat kami sih kunci utama dalam menyiasati isu-isu ini adalah komunikasi dan transparansi antar pasangan. Mungkin tidak semua hal bisa dishare ke keluarga, tapi kami berusaha untuk terbuka setidaknya antar kami berdua. Sejauh ini, apapun yang terjadi dalam persiapan pernikahan kami, kami berdua selalu membahasnya dengan kepala dingin. At the end of the day, tujuannya kan kami ingin menjalani hidup berdua sebagai pasangan suami-istri. Everything else is just detail.

Remember, you’re on each other’s team! 

2 thoughts on “Berapa Maharnya?: Tips Menyiasati Isu-Isu Sensitif Dalam Menyiapkan Pernikahan

  1. rosa says:

    hai kak,kebetulan weekend ini kami akan melangsungkan acara keluarga yang pada intinya akan membahas rencana acara pernikahan kami dan menyerahkan mahar dari cpp, awalnya kami juga bingung akan bagaimana penyerahan mahar ini. Karena kami sama-sama tidak mau ada pihak lain yang bertanya-tanya maharnya berapa kemudian membandingkan dengan pengantin lain biasanya mereka akan bilang “oh, segitu ya, kalau si itu kemarin segini”. Akhirnya kami sepakat bahwa nilainya hanya akan diketahui oleh aku,calon,orang tuaku dan camer, dan ini sudah kami kompromikan bersama 🙂
    dan setuju banget kalau semua persiapan harus dengan kompromi dan tenggang rasa
    semoga lancar sampai hari H ya kak 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s